Terkadang, dalam hal yang sepintas remeh, terkandung hal yang sebetulnya tak bisa dianggap remeh. Pernahkah Anda bermain petak umpet atau, istilah orang Sunda, ucing sumput? Sepintas, ucing sumput hanyalah permainan anak-anak belaka. Tapi siapa sangka di balik permainan itu ada filosofi ketuhanan.
Hong! Itulah kata yang disebut si kucing jika menemukan kawannya yang sedang sembunyi. Hong berarti bertemu. Arti lebihnya berarti bertemu dengan Tuhan. Dalam bahasa dunia, ada juga kta hom -- Hom Swaswasti, Hom Wilaheng -- yang semuanya menjurus kepada hal-hal yang bersifat ketuhanan.
Muhammad Zaini Alif (34), seorang dosen yang menyebut dirinya ahli mainan rakyat, mengatakan, anak-anak sebaiknya dilatih sejak kecil bahwa suatu saat dia akan bertemu dengan Tuhan. Ketika si anak kahongkeun (terkena Hong) oleh si Kucing, dia tidak bisa bermain lagi dan hanya menonton teman-temannya yang meneruskan permainan. Begitupun manusia di dunia ini. Saat di-hongkeun oleh Tuhan, manusia harus bertemu dengan Tuhan dan tidak bisa bermain lagi di dunia.
Dari situlah, Zaini mendirikan Komunitas Hong pada 2003 silam. Komunitas ini berusaha menggali kembali mainan dan permainan rakyat baik yang berasal dari tradisi lisan maupun tulisan (naskah). Hong mencoba menerapkan pola pendidikan masyarakat buhun agar anak mengenal diri, alam, dan Tuhannya lewat permainan.
Menurut Zaini, pengenalan terhadap Tuhan tidak dilakukan secara verbal. “Wah, kalau kamu bermain ini, kamu akan mengenal Tuhan. Tidak begitu,” tegasnya. Secara batiniah anak-anak akan menemukan adanya Tuhan dalam dirinya. Bagaimana ia mengenal alam, dirinya, dan Tuhan hanya dampak karena permainan yang mengajarkan itu semua.
Dunia anak adalah dunia bermain. Jadi, mengenalkan apapun – termasuk Tuhan – kepada anak-anak harus melalui dunianya. “Kita tidak bermaksud mempermainkan Tuhan. Tapi mungkin Tuhan juga Maha Bermain,” ujarnya. Ia menambahkan, sekarang ini, upaya mengenalkan Tuhan hanya melalui ibadah (shalat bagi umat Islam), lantas selesai. Padahal, leluhur kita menggunakan berbagai media untuk mengenalkan anak kepada Tuhannya, termasuk permainan.
Dahulu, permainan memang tak sekedar acara bermain. Permainan adalah hal yang dianggap serius sehingga ada ahlinya. Dalam naskah Amanat Galunggung (Abad ke-15), dalam Bab Saweka Dharma Sanghyang Siksanandang Karesian, tersebut kata Hempul. Hempul adalah sebutan bagi orang yang ahli membuat mainan, cara bermain, sampai pada filosofi mainan dan permainan tradisional.
Lahirnya Komunitas Hong
Permainan sangat dekat dengan hidup seorang Muhammad Zaini. Kedekatan laki-laki kelahiran Subang, 9 Mei 1975, dengan mainan dimulai sejak kecil. Ia selalu menanti waktu pulang sekolah tiba. Selepas sekolah, ia bersama kawan-kawannya mencari biji pohon karet dan kluwak untuk dibuat kerkeran, mainan sejenis kipas angin. Baling-baling kerkeran dibuat dari bambu dengan penyangga dari biki karet, kluwak, atau batok kelapa.
Kecintaan Zaini terhadapa mainan makin menggila. Gelar sarjana dari Institut Teknologi Nasional (Itenas) dan master dari ITB ia peroleh dengan menjadikan permainan rakyat sebagai objek penelitiannya. Saat di ITB, ia pernah diminta mengganti objek penelitiannya karena permainan rakyat tidak ada naskah acuannya.
Namun, Zaini tidak putus asa. Ia bergerilya ke museum dan perpustakaan untuk mencari naskah yang ada kaitannya dengan permainan rakyat Sunda. Ia meyakini permainan tradisonal banyak diwariskan. Jadi, pasti ada orang yang pernah menuliskannya. Akhirnya ia pun menemukan naskah Amanat Galunggung yang menyebutkan kata hempul tadi.
Penelusuran Zaini tak sebatas pada naskah saja. Sejak 1996, Zaini sudah meneliti mainan dan permainan rakyat. Ia menjelajah kampung-kampung adat di bagian tengah dan selatan Jawa Barat. Hasilnya, ia berhasil menemukan sekitar 250 mainan dan permainan rakyat. Dus, Zaini memang pantas disebut dan menyebut dirinya sebagai ahli permainan rakyat.
Sebanyak 250 jenis mainan dan permainan rakyat yang berhasil ditemukan kemudian diinventarisasi oleh Zaini. Inilah yang mendorong Zaini untuk mendirikan komunitas Hong. Menurutnya, dengan adanya komunitas tersebut, ada orang-orang yang memainkan ke-250 jenis mainan dan permainan itu kelak.
Berawal dari Zaini seorang diri, kini Hong sudah mempunyai anggota sekitar 150 orang dari beragam usia, mulai dari umur enam tahun sampai 90 tahun. Di komunitas ini, anak-anak menjadi pelaku permainan sementara yang tua menjadi pembuat mainan.
Setiap minggu, anak-anak yang kebanyakan berasal dari lingkungan sekitar Dago Pakar – tempat komunitas Hong – diajari bermain dan membuat mainan. Menurut Zaini, sudah ada sepuluh hingga 15 mainan dan permainan yang diajarkan kepada anak-anak. Mereka, lanjut Zaini, bermain sesuai dengan apa yang mereka suka dan mereka bisa. “Kalo pengennya main yang itu-itu saja setiap hari, sampai umurnya 20 tahun pun gak masalah,” katanya.
Naik Turun
Zaman terus berganti dan aspek kehidupan juga terus berubah seiring perjalanan sang waktu. Begitupun mainan dan permainan, kian hari kian sepi peminat. Di Komunitas Hong sendiri, jumlah anak-anak yang bermain di sana mengalami fluktuasi, naik-turun. “Kadang 80-an orang, kadang juga 40, bahkan 10 orang,” tutur Zaini. Sesekali, juga ada rombongan anak sekolah yang datang untuk belajar bermain.




Sampurasun..
BalasHapusWaas eta hong-hongan.
Upami di wewengkon sim kuring mah sarimbang sareng BABATALIONAN, atanapi UCING SUMPUT.
Salam.