Saung Angklung Mang Udjo , Museum & Pendidikan
Jl. Padasuka No. 118
Bandung - 40192
Jawa Barat, Indonesia
telepon
fax
website
messenger
: +62 22 7271714
: -
: -
: -
: -
Koordinat GPS :
Latitude = -6.894133
Longitude = 107.658763
Fasilitas:
Gedung pertunjukkan
Industri kerajinan angklung
Show room
Deskripsi :
Saung Angklung Udjo (SAU) merupakan tempat pertunjukan terpadu yang terdiri dari :
tempat pertunjukan, pusat kerajinan bambu dan alat instrumen bambu. Hal tersebutlah yang menjadikan SAU sebagai pusat pendidikan dan penelitian angklung - seni dan kebudayaan sunda.
SAU berdiri pada tahun 1966 oleh Udjo Ngalagena beserta istrinya tercinta, Uum Sumiati. Dengan kemauan dan dedikasi yang kuat untuk melestarikan dan mengembangkan seni dan budaya tradisional sunda.
SAU mengilustrasikan alam dan budaya dalam keharmonisan, tidak mengherankan SAU menjadi tujuan destinasi wisata kebudayaan sunda sebagai warisan cagar budaya dunia.
Terletak di wilayah Bandung Timur, SAU merupakan tempat sempurna untuk menikmati kesegaran udara dan keindahan dari hasil kerajinan bambu dan suara musik dari instrumen bambu.
Bengkel Alat Musik
Saung Mang Udjo didirikan pada tahun 1967 oleh seniman angklung terkemuka, (alm) Udjo Ngalagena (1927-2001). Salah satu misi rumah seni ini adalah untuk melestarikan dan mengembangkan musik bambu.
Selain pepohonan bambu, di kompleks rumah seni itu terdapat bengkel pembuatan serta tempat-tempat penyimpanan angklung yang siap diekspor ke Korea, Jepang, Belanda, Jerman, Perancis, dan Amerika. Jadi selain menikmati atraksi permainan musik, pengunjung juga bisa menyaksikan para pekerja membuat angklung.
Di tempat itu pula setiap hari seusai jam sekolah puluhan anak dari kampung sekitar diajari menyanyi, menari, dan memainkan angklung. Kemudian pada sore harinya, yaitu setiap pukul 15.30 hingga 17.30, semuanya diikutsertakan dalam pentas untuk menghibur pengunjung.
"Mereka yang terlibat dalam pertunjukan ini berusia antara tiga hingga 16 tahun," tutur Ika dan Mayang, mantan pemain angklung yang kini lebih sering berperan sebagai MC.
Tak hanya kesenian yang diajarkan kepada mereka. Di usia yang masih sangat muda, bocah-bocah itu juga dilatih berbahasa Inggris. Jangan heran kalau di tengah pertunjukan, seorang bocah yang baru saja menyuguhkan atraksi berani bicara di tengah panggung, "My name is Rian. I am six years old..." dan seterusnya.
Dalam menjalankan tugasnya sebagai MC, Ika dan Mayang pun tak kalah fasih dibandingkan dengan penyiar televisi programa bahasa Inggris dalam memberikan penjelasan atas tontonan yang sedang dinikmati pengunjung.
Symphony 40
Memang, sebelum bom meledak di Bali, lebih banyak turis asing yang berkunjung di Saung Mang Udjo ketimbang pengunjung lokal. Bahkan boleh dibilang, saung yang semula berbentuk rumah kecil itu bisa tumbuh dan berkembang berkat apresiasi turis asing atas kesenian angklung.
Tokoh penting dari Malaysia, Filipina, Thailand, Belanda, Amerika, Jerman, dan Perancis, banyak yang pernah mampir ke tempat itu. Atas permintaan berbagai pihak pula seniman-seniman dari Saung Mang Udjo pernah unjuk kebolehan di berbagai negara, di samping di berbagai tempat di Indonesia.
Menikmati kesenian Sunda di Saung Mang Udjo memang tidak membosankan. Setelah MC memberi pengantar, pentas kesenian segera dibuka dengan pertunjukan wayang golek. Namun, di sini bukan cerita wayang golek itu yang ingin ditekankan. Kepada pengunjung justru diperlihatkan bagaimana boneka-boneka yang bisa menari dan jumpalitan itu dimainkan.
Kemudian dengan iringan gendang dan alat musik yang semua terbuat dari bambu (Arumba: Alunan Rumpun Bambu), aneka atraksi pesta rakyat yang melibatkan puluhan penari disuguhkan. Puncaknya, sekitar 30 remaja putra dan putri yang masing-masing menjinjing antara empat hingga enam anklung maju ke pentas.
Berbagai jenis lagu mereka perdengarkan. Ada lagu daerah, pop nasional maupun asing, bahkan lagu klasik Symphony No. 40 karya Mozart yang berirama lincah juga sanggup diperdengarkan dengan musik bambu di tangan mereka.
Konser Penonton
Kejutan tak berhenti sampai di situ. Begitu selesai memperlihatkan keterampilan, para remaja itu langsung menghambur, masing-masing mendampingi seorang penonton sambil membagikan angklung. Di tengah ruangan, seorang pelatih kemudian memberi panduan kilat tentang cara memegang dan menggoyangkan alat musik itu untuk memperoleh tekanan suara yang diinginkan.
Seniman-seniman cilik yang mendampingi pengunjung akan memperjelas dengan memberikan contoh langsung apa yang dimaksud pelatih. Setelah diberi tahu pula kaitan antara isyarat tangan dengan nada angklung mana yang harus dibunyikan, tangan pelatih itu lalu bergerak-gerak lincah.
Serentak dari situ terdengar berbagai alunan lagu dari angklung yang secara bergiliran dibunyikan pengunjung sesuai isyarat tangan pelatih. Satu di antaranya adalah lagu I have a dream yang pernah dicoba dipopulerkan oleh kelompok penyanyi West Life.
"I have a dream, a song to sing...." Begitu, tanpa dikomando, para pengunjung menimpali alunan musik bambu di tangan mereka itu dengan nyanyian dari mulut sendiri. (SENIOR/Waskito Trisnoadi JJ)



ok nice, bagus... materinya ok dan pilihan layoutnya enakeun dibaca.
BalasHapusmasukannya :
1. dibagian about "Blog ini saya buat untuk menambah nilai mata pelajaran matematika" ganti dong taglinenya dengan yang lebih bikin semangat soalnya kesannya terpaksa bikin blognya padahal ini materi blognya bagus2 lo
2. disetiap artikel kasih tag :sma pasundan 1 bandung, pasone, pasundan satu
3. kasih link ke :
facebook.com/pasundansatu
pasundansatu.com
tengkyu sebelumnya.
ditunggu perbaikannya, oh ya 1 lagi... coba buat 1 artikel tentang sma kita ya... i think that will be nice addition