Minggu, 15 Januari 2012

Kaulinan Sunda

Komunitas Hong, Surga Mainan dan Permainan Sunda


Terkadang, dalam hal yang sepintas remeh, terkandung hal yang sebetulnya tak bisa dianggap remeh. Pernahkah Anda bermain petak umpet atau, istilah orang Sunda, ucing sumput? Sepintas, ucing sumput hanyalah permainan anak-anak belaka. Tapi siapa sangka di balik permainan itu ada filosofi ketuhanan.






Hong! Itulah kata yang disebut si kucing jika menemukan kawannya yang sedang sembunyi. Hong berarti bertemu. Arti lebihnya berarti bertemu dengan Tuhan. Dalam bahasa dunia, ada juga kta hom -- Hom Swaswasti, Hom Wilaheng -- yang semuanya menjurus kepada hal-hal yang bersifat ketuhanan.

Muhammad Zaini Alif (34), seorang dosen yang menyebut dirinya ahli mainan rakyat, mengatakan, anak-anak sebaiknya dilatih sejak kecil bahwa suatu saat dia akan bertemu dengan Tuhan. Ketika si anak kahongkeun (terkena Hong) oleh si Kucing, dia tidak bisa bermain lagi dan hanya menonton teman-temannya yang meneruskan permainan. Begitupun manusia di dunia ini. Saat di-hongkeun oleh Tuhan, manusia harus bertemu dengan Tuhan dan tidak bisa bermain lagi di dunia.

Dari situlah, Zaini mendirikan Komunitas Hong pada 2003 silam. Komunitas ini berusaha menggali kembali mainan dan permainan rakyat baik yang berasal dari tradisi lisan maupun tulisan (naskah). Hong mencoba menerapkan pola pendidikan masyarakat buhun agar anak mengenal diri, alam, dan Tuhannya lewat permainan.

Menurut Zaini, pengenalan terhadap Tuhan tidak dilakukan secara verbal. “Wah, kalau kamu bermain ini, kamu akan mengenal Tuhan. Tidak begitu,” tegasnya. Secara batiniah anak-anak akan menemukan adanya Tuhan dalam dirinya. Bagaimana ia mengenal alam, dirinya, dan Tuhan hanya dampak karena permainan yang mengajarkan itu semua.

Dunia anak adalah dunia bermain. Jadi, mengenalkan apapun – termasuk Tuhan – kepada anak-anak harus melalui dunianya. “Kita tidak bermaksud mempermainkan Tuhan. Tapi mungkin Tuhan juga Maha Bermain,” ujarnya. Ia menambahkan, sekarang ini, upaya mengenalkan Tuhan hanya melalui ibadah (shalat bagi umat Islam), lantas selesai. Padahal, leluhur kita menggunakan berbagai media untuk mengenalkan anak kepada Tuhannya, termasuk permainan.

Dahulu, permainan memang tak sekedar acara bermain. Permainan adalah hal yang dianggap serius sehingga ada ahlinya. Dalam naskah Amanat Galunggung (Abad ke-15), dalam Bab Saweka Dharma Sanghyang Siksanandang Karesian, tersebut kata Hempul. Hempul adalah sebutan bagi orang yang ahli membuat mainan, cara bermain, sampai pada filosofi mainan dan permainan tradisional.

Lahirnya Komunitas Hong
Permainan sangat dekat dengan hidup seorang Muhammad Zaini. Kedekatan laki-laki kelahiran Subang, 9 Mei 1975, dengan mainan dimulai sejak kecil. Ia selalu menanti waktu pulang sekolah tiba. Selepas sekolah, ia bersama kawan-kawannya mencari biji pohon karet dan kluwak untuk dibuat kerkeran, mainan sejenis kipas angin. Baling-baling kerkeran dibuat dari bambu dengan penyangga dari biki karet, kluwak, atau batok kelapa.




Kecintaan Zaini terhadapa mainan makin menggila. Gelar sarjana dari Institut Teknologi Nasional (Itenas) dan master dari ITB ia peroleh dengan menjadikan permainan rakyat sebagai objek penelitiannya. Saat di ITB, ia pernah diminta mengganti objek penelitiannya karena permainan rakyat tidak ada naskah acuannya.

Namun, Zaini tidak putus asa. Ia bergerilya ke museum dan perpustakaan untuk mencari naskah yang ada kaitannya dengan permainan rakyat Sunda. Ia meyakini permainan tradisonal banyak diwariskan. Jadi, pasti ada orang yang pernah menuliskannya. Akhirnya ia pun menemukan naskah Amanat Galunggung yang menyebutkan kata hempul tadi.

Penelusuran Zaini tak sebatas pada naskah saja. Sejak 1996, Zaini sudah meneliti mainan dan permainan rakyat. Ia menjelajah kampung-kampung adat di bagian tengah dan selatan Jawa Barat. Hasilnya, ia berhasil menemukan sekitar 250 mainan dan permainan rakyat. Dus, Zaini memang pantas disebut dan menyebut dirinya sebagai ahli permainan rakyat.

Sebanyak 250 jenis mainan dan permainan rakyat yang berhasil ditemukan kemudian diinventarisasi oleh Zaini. Inilah yang mendorong Zaini untuk mendirikan komunitas Hong. Menurutnya, dengan adanya komunitas tersebut, ada orang-orang yang memainkan ke-250 jenis mainan dan permainan itu kelak.

Berawal dari Zaini seorang diri, kini Hong sudah mempunyai anggota sekitar 150 orang dari beragam usia, mulai dari umur enam tahun sampai 90 tahun. Di komunitas ini, anak-anak menjadi pelaku permainan sementara yang tua menjadi pembuat mainan.

Setiap minggu, anak-anak yang kebanyakan berasal dari lingkungan sekitar Dago Pakar – tempat komunitas Hong – diajari bermain dan membuat mainan. Menurut Zaini, sudah ada sepuluh hingga 15 mainan dan permainan yang diajarkan kepada anak-anak. Mereka, lanjut Zaini, bermain sesuai dengan apa yang mereka suka dan mereka bisa. “Kalo pengennya main yang itu-itu saja setiap hari, sampai umurnya 20 tahun pun gak masalah,” katanya.




Dalam hal ini, Zaini tidak memaksakan si anak harus bermain mainan tertentu. Mereka bermain dengan apa yang mereka bisa. Ketika anak-anak tidak bisa memainkan sebuah permainan, mereka diajarkan saat mereka memintanya dengan suka rela. Mereka menyenangi semua permainan dan tidak ada kesusahan saat memainkannya. “Kesusahan akan timbul ketika ada paksaan selama permainan. Unsur paksaan dan tidak menyenangkan menjadikan permainan bukan sebuah permainan lagi,” tutur Zaini.

Naik Turun

Zaman terus berganti dan aspek kehidupan juga terus berubah seiring perjalanan sang waktu. Begitupun mainan dan permainan, kian hari kian sepi peminat. Di Komunitas Hong sendiri, jumlah anak-anak yang bermain di sana mengalami fluktuasi, naik-turun. “Kadang 80-an orang, kadang juga 40, bahkan 10 orang,” tutur Zaini. Sesekali, juga ada rombongan anak sekolah yang datang untuk belajar bermain.




Saung Angklung Udjo

Saung Angklung Udjo (SAU) merupakan sebuah tujuan wisata budaya yang lengkap, karena SAU memiliki arena pertunjukan, pusat kerajinan bambu dan workshop untuk alat musik bambu. Disamping itu, kehadiran SAU di Bandung menjadi lebih bermakna karena kepeduliannya untuk terus melestarikan dan mengembangkan kebudayaan Sunda – khususnya Angklung – kepada masyarakat melalui sarana pendidikan dan pelatihan.


Saung Angklung Mang Udjo , Museum & Pendidikan

Jl. Padasuka No. 118
Bandung - 40192
Jawa Barat, Indonesia
telepon
fax
e-mail
website
messenger
: +62 22 7271714
: -
: -
: -
: -
Koordinat GPS :

Latitude = -6.894133
Longitude = 107.658763


Fasilitas:
Gedung pertunjukkan
Industri kerajinan angklung
Show room

Deskripsi :

Saung Angklung Udjo (SAU) merupakan tempat pertunjukan terpadu yang terdiri dari :
tempat pertunjukan, pusat kerajinan bambu dan alat instrumen bambu. Hal tersebutlah yang menjadikan SAU sebagai pusat pendidikan dan penelitian angklung - seni dan kebudayaan sunda.



SAU berdiri pada tahun 1966 oleh Udjo Ngalagena beserta istrinya tercinta, Uum Sumiati. Dengan kemauan dan dedikasi yang kuat untuk melestarikan dan mengembangkan seni dan budaya tradisional sunda.



SAU mengilustrasikan alam dan budaya dalam keharmonisan, tidak mengherankan SAU menjadi tujuan destinasi wisata kebudayaan sunda sebagai warisan cagar budaya dunia.



Terletak di wilayah Bandung Timur, SAU merupakan tempat sempurna untuk menikmati kesegaran udara dan keindahan dari hasil kerajinan bambu dan suara musik dari instrumen bambu.



Bengkel Alat Musik

Saung Mang Udjo didirikan pada tahun 1967 oleh seniman angklung terkemuka, (alm) Udjo Ngalagena (1927-2001). Salah satu misi rumah seni ini adalah untuk melestarikan dan mengembangkan musik bambu.

Selain pepohonan bambu, di kompleks rumah seni itu terdapat bengkel pembuatan serta tempat-tempat penyimpanan angklung yang siap diekspor ke Korea, Jepang, Belanda, Jerman, Perancis, dan Amerika. Jadi selain menikmati atraksi permainan musik, pengunjung juga bisa menyaksikan para pekerja membuat angklung.

Di tempat itu pula setiap hari seusai jam sekolah puluhan anak dari kampung sekitar diajari menyanyi, menari, dan memainkan angklung. Kemudian pada sore harinya, yaitu setiap pukul 15.30 hingga 17.30, semuanya diikutsertakan dalam pentas untuk menghibur pengunjung.

"Mereka yang terlibat dalam pertunjukan ini berusia antara tiga hingga 16 tahun," tutur Ika dan Mayang, mantan pemain angklung yang kini lebih sering berperan sebagai MC.

Tak hanya kesenian yang diajarkan kepada mereka. Di usia yang masih sangat muda, bocah-bocah itu juga dilatih berbahasa Inggris. Jangan heran kalau di tengah pertunjukan, seorang bocah yang baru saja menyuguhkan atraksi berani bicara di tengah panggung, "My name is Rian. I am six years old..." dan seterusnya.

Dalam menjalankan tugasnya sebagai MC, Ika dan Mayang pun tak kalah fasih dibandingkan dengan penyiar televisi programa bahasa Inggris dalam memberikan penjelasan atas tontonan yang sedang dinikmati pengunjung.

Symphony 40

Memang, sebelum bom meledak di Bali, lebih banyak turis asing yang berkunjung di Saung Mang Udjo ketimbang pengunjung lokal. Bahkan boleh dibilang, saung yang semula berbentuk rumah kecil itu bisa tumbuh dan berkembang berkat apresiasi turis asing atas kesenian angklung.

Tokoh penting dari Malaysia, Filipina, Thailand, Belanda, Amerika, Jerman, dan Perancis, banyak yang pernah mampir ke tempat itu. Atas permintaan berbagai pihak pula seniman-seniman dari Saung Mang Udjo pernah unjuk kebolehan di berbagai negara, di samping di berbagai tempat di Indonesia.

Menikmati kesenian Sunda di Saung Mang Udjo memang tidak membosankan. Setelah MC memberi pengantar, pentas kesenian segera dibuka dengan pertunjukan wayang golek. Namun, di sini bukan cerita wayang golek itu yang ingin ditekankan. Kepada pengunjung justru diperlihatkan bagaimana boneka-boneka yang bisa menari dan jumpalitan itu dimainkan.

Kemudian dengan iringan gendang dan alat musik yang semua terbuat dari bambu (Arumba: Alunan Rumpun Bambu), aneka atraksi pesta rakyat yang melibatkan puluhan penari disuguhkan. Puncaknya, sekitar 30 remaja putra dan putri yang masing-masing menjinjing antara empat hingga enam anklung maju ke pentas.

Berbagai jenis lagu mereka perdengarkan. Ada lagu daerah, pop nasional maupun asing, bahkan lagu klasik Symphony No. 40 karya Mozart yang berirama lincah juga sanggup diperdengarkan dengan musik bambu di tangan mereka.

Konser Penonton

Kejutan tak berhenti sampai di situ. Begitu selesai memperlihatkan keterampilan, para remaja itu langsung menghambur, masing-masing mendampingi seorang penonton sambil membagikan angklung. Di tengah ruangan, seorang pelatih kemudian memberi panduan kilat tentang cara memegang dan menggoyangkan alat musik itu untuk memperoleh tekanan suara yang diinginkan.

Seniman-seniman cilik yang mendampingi pengunjung akan memperjelas dengan memberikan contoh langsung apa yang dimaksud pelatih. Setelah diberi tahu pula kaitan antara isyarat tangan dengan nada angklung mana yang harus dibunyikan, tangan pelatih itu lalu bergerak-gerak lincah.

Serentak dari situ terdengar berbagai alunan lagu dari angklung yang secara bergiliran dibunyikan pengunjung sesuai isyarat tangan pelatih. Satu di antaranya adalah lagu I have a dream yang pernah dicoba dipopulerkan oleh kelompok penyanyi West Life.

"I have a dream, a song to sing...." Begitu, tanpa dikomando, para pengunjung menimpali alunan musik bambu di tangan mereka itu dengan nyanyian dari mulut sendiri. (SENIOR/Waskito Trisnoadi JJ)